Rabu, 10 Agustus 2011 - 12:41:12 WIB
Teologi Kemakmuran
Diposting oleh : Administrator
Kategori: Doktrin - Dibaca: 579 kali

Apa itu roh Waralaba? Roh waralaba adalah roh komersial yang menjadikan semua program dan kerohanian sebagai alat komoditi yang untuk memperkaya diri sendiri dan ambisinya. Sebenarnya segala sesuatunya harus berujung pada kerajaan sorga dan Tuhan sebagai tuan. Kamu menyembah apa yang tidak kamu kenal, sehingga kamu menyembah di gunung ini dengan cara ini dan itu, namun kami menyembah apa yang kami kenal…, bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, namun hatinya menjauh!!! Mengapa kita sekarang diserongkan oleh iblis dan ambisi kita kepada hal-hal lahiriah, tatacara, dan semua program waralaba (franchise=hak monopoli).

Isteri saya pernah mengikuti suatu program pelatihan kepemimpinan bersama dengan beberapa teman lainnya. Beberapa bulan kemudian, ia diminta untuk menjadi panitia program tersebut, padahal disaat yang sama, gereja sangat membutuhkan tenaganya. Isteri saya menolak secara halus, namun terus dibujuk untuk menerima tugas baru tersebut.  Melalui kejadian tersebut saya dapat melihat bahwa strategi semacam ini sebenarnya strategi kecerdikan, namun bisa berakhir dengan kelicikan.Ada pula seorang pekerja gereja kami mengikuti suatu program. Setelah lulus, tanpa segannya panitia membujuk dan memintanya untuk menjadi panitia dan pekerja bagi program tersebut. Padahal sebenarnya kami mengirimkan pekerja tersebut dengan tujuan agar ia dapat membantu dan bekerja lebih trampil di gereja kami. Akibatnya pekerja tersebut menjadi salah paham bahwa kami egois karena tidak mengijinkannya untuk memenuhi permintaan panitia program tersebut. Sebenarnya kalau ditinjau dari tujuan program tersebut adalah untuk membantu perkembangan gereja, sedangkan kami mengirimkan pekerja gereja kami untuk belajar disana. Tapi ternyata hasilnya tidak selalu seperti yang kita harapkan. Kita semua harus belajar menjadi bijaksana bukan hanya pandai, sebab Tuhan mengajarkan kepada kita agar menjadi  orang yang bijak.Masih adakah yang mempunyai ketulusan hati dan etika?Warga kerajaan sorga adalah warga kelas atas dan utama, sepantasnya kita tidak sama dengan orang dunia!Seseorang yang lahir dan dibesarkan sebagai orang berpendidikan seharusnya jauh berbeda dengan orang yang tidak terdidik. Mengapa kita sebagai umat Tuhan malah bertindak kurang arif, kurang terpelajar dan kurang etika, sehingga terkesan sebagai orang yang duniawi atau warga kelas dua?Berubahlah oleh akal budimu, supaya kamu mengetahui mana kehendak Tuhan, mana yang bukan. Persembahkanlah dirimu sebagai korban yang hidup, kudus dan yang berkenan kepada Tuhan, itu adalah ibadahmu yang sejati (Roma 12:2,1)!

Seringkali program pujian, penyembahan, nubuatan, tumpang tangan, Roh Kudus, kesembuhan, mujizat berakhir dengan mendirikan kerajaan tandingan bagi sorga. Pernah Tuhan Yesus menyampaikan bahwa kerajaan sorga telah diserongkan!Roh waralaba telah merasuk gereja Tuhan dan menjadi saingan bagi kerajaan sorga, hal ini harus diakhiri dengan sikap bijaksana dari para hamba Tuhan. Tuhan Yesus pernah mengobrak-abrik dan menjungkal balikkan meja penukar uang, perdagangan binatang korban persembahan di Bait salomo.

Arianus adalah salah satu penatua dari gereja ortodoks, berhasil mendirikan paham yang bernama Arianisme yang menimbulkan pertikaian antar Kristen selama berabad-abad (sejak abad 4 M). Arianisme memakai strategi pujian, untuk mendoktrinkan paham bahwa Yesus adalah nabi, bukan Tuhan. Namun Arianisme ini menjadi pudar pada akhir abad ke 7 sampai abad ke 8, bersamaan dengan berdirinya sebuah agama baru yang dibawa oleh Muhammad (yang dianggap sebagai nabi oleh umat Islam). Agama baru ini dengan mudah memindahkan iman Kristen yang berpahamkan Arianisme tersebut, yang berpusat di Negara Mediteranian (sekarang Maroko, Tunisia, Algeria, Libia, Mesir, Yordania, Syria, Irak, Iran, Lebanon, Israel, dan Arab Saudi, serta Sudan, dan Eitophia). Mari kita simak, paham Arianisme ini memakai strategi kekharismaan dari Arianus. Strategi ini sangat berhasil sehingga kemudian ditiru dengan mengutamakan kharisma, idola, dan kultus individu atau ketokohan. Kelak, antikris yang berdiri di Bait suci, bukan hanya seorang figur berlambang 666, namun setiap tokoh Kristen yang menokohkan dirinya, yang mendirikan “kerajaan”nya sendiri serta menjadikan dirinya sebagai “tuhan” bagi umatnya.  Ketokohan dan kekharismaan inilah yang mengilhami gerakan  yang bernama Kristen Kharismatik.